09/06/13

Tugas Perkembangan Anak dan Pola Asuh

Pendahuluan

Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidaklah mudah dan sesederhana yang kita bayangkan. Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak mereka.

Sebagai orang tua, menjadi sangat penting untuk menaruh perhatian tinggi dan peduli pada setiap perkembangan anak. Hal-hal sederhana yang dilakukan oleh para orang tua, pada hakikatnya akan selalu terekam pada memori anak dan biasanya akan menjadi acuan bagi anak dalam berperilaku. Ucapan yang keluar dari mulut dan sikap serta perilaku yang “berbahaya” bagi anak kita akan menjadi bahan pelajaran pertama dan utama bagi seorang anak dan menentukan perilaku mereka ke depan. Harus disadari betul bahwa anak tidak hanya perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi verbal, namun juga yang lebih penting adalah dengan komunikasi visual yang langsung maupun tak langsung, yang dilakukan secara sadar maupun tak sadar, akan menjadi bagian dari proses belajar anak dan terekam dalam otaknya.

Pada prinsipnya bagaimana pola perkembangan ideal yang terjadi pada setiap anak sudah diteliti oleh para ahli psikologi selama bertahun-tahun. Pola-pola tersebut terekam dalam apa yang disebut sebagai tugas masa perkembangan anak. Apa yang secara umum terjadi pada anak, baik secara fisik, motorik, kognitif atau kecerdasan, kepribadian dan perilaku sebetulnya sudah memiliki pola yang baku. Namun permasalahannya, adalah pengetahuan tersebut tidaklah dimiliki oleh setiap orang. Padahal sudah begitu banyak buku, catatan, berita dan wawancara para tokokh mengenai hal tersebut yang bisa ditemui baik dalam jurnal-jurnal ilmiah maupun tulisan-tulisan sederhana, melalui opini para ahli dalam media massa. Bagaimana catatan-catatan tentang itu lebih banyak menjadi konsumsi ilmiah dibandingkan sebagai rujukan teknis bagi para orang tua untuk mencoba membangun pola asuh yang baik bagi anak-anaknya.

Apa itu pola asuh? Pola asuh pada prinsipnya adalah sebuah pola pembelajaran dan pendidikan sehari-hari yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, yang bia membentuk karakter dan kepribadian anak ke depan. Model karakter dan kepribadian seperti apa yang tertanam pada anak adalah hasil dari pola asuh orang tua dan lingkungan terdekatnya. Apa yang terjadi sehari-hari dalam sebuah keluarga, akan menjadi sumber pembelajaran pertama dan utama bagi seorang anak dalam banyak hal, seperti perangai, kepribadian, karakter, kemampuan fisik dan emosional serta kemampuan dalam hal bersosialisasi. Proses pembelajaran yang berasal dari perilaku orang tua dalam kehidupannya sehari-hari, baik sengaja maupun tidak, akan secara otomatis terjadi pada anak dalam sebuah rumah tangga.

Untuk itu, sangatlah bermanfaat bagi perkembangan seorang anak, ketika sebuah keluarga, khususnya orang tua, memiliki pemahaman ini dan mengetahui secara garis besar mengenai apa-apa saja yang memang secara alamiah terjadi pada seorang anak dalam setiap fase perkembangannya. Sehingga orang tua dapat menyikapinya dengan perilaku dan mengerti pola asuh seperti apa yang mereka anggap ideal bagi anak-anaknya.

Belum lagi misalnya pemahaman orang tua pada perilaku anak-anaknya yang telah memasuki masa remaja, di mana lingkungan di luar keluarga sangat mendominasi perkembangan karakter dan mempengaruhi perilaku anak tersebut. Gambaran umum seorang remaja yang pada fase tersebut memang cenderung untuk mencari nilai-nilai baru di luar lingkungan keluarga dan membanding-bandingkannya dengan nilai-nilai yang selama ini dia terima dalam keluarga. Kemudian bagaimana seorang remaja memiliki kecenderungan memberontak pada nilai-nilai keluarga dan lebih cenderung untuk mengambil nilai-nilai lingkungan di luar keluarga sebagai pegangan dalam berperilaku, ini juga harus dipahami dengan baik oleh para orang tua agar tidak salah memahami dan menyikapi apa yang terjadi pada anak-anaknya yang berada pada fase remaja tersebut.

Masih sangat relevan sebetulnya istilah “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan sebetulnya itu bukan hanya sebagai sebuah definisi dari persoalan genetikal dan fisik, namun juga hasil dari pemahaman seorang anak atas perilaku orang tua dan pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Karena pada prinsipnya, seorang anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua atau keluarga. Mereka menyerap informasi dengan baik dari kelima indra mereka dan membuat definisi serta mengintepretasikan informasi menjadi nilai-nilai yang pada gilirannya mereka simpan sebagai sebuah acuan berperilaku. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua yang akan mereka serap, bahkan kebanyakan tidak disadari oleh para orang tua.

Periodesasi Perkembangan Anak

Setiap orang akan mengalami periodisasi dalam perkembangannya, begitu juga sebaliknya perkembangan masa anak-anak akan mengalami periodisasi dari mulai lahir, bicara dan mulai merangkak. Menurut Munorang tuar (1985), ditinjau dari sudut psikologi anak dibagi antara lain:

  1. Masa bayi, yaitu sejak lahir sampai akhir tahun kedua.
  2. Masa anak awal atau masa kanak-kanak, yaitu permulaan tahun ketiga sampai usia 6 tahun. Masa ini disebut pula masa anak prasekolah.\
  3. Masa anak lanjut atau masa anak sekolah, yaitu dari usia 6-12 tahun atau 13 tahun, masa ini disebut pula masa anak usia sekolah dasar pada usia ini biasanya anak duduk di sekolah dasar.
  4. Masa remaja, yaitu dari usia 13-18 tahun.

Hurlock (1990), membagi periodisasi masa anak menjadi dua, yaitu : early childhood pada usia 2-6 tahun dan late childhood pada usia 6 -12 tahun, sedangkan usia 0-1 tahun merupakan masa bayi, dimana pada masing-masing periode mempunyai ciri-ciri yang dapat membedakan pengertian anak dengan orang dewasa. Lebih lanjut lagi Havighust (dalam Kasiram, 1994), membagi masa anak menjadi dua juga, yaitu : 1-6 tahun sebagai masa kanak-kanak (infancy dan early childhood), dan usia 6-12 tahun yang merupakan masa sekolah atau periode intelektual (middle childhood). \

Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan dari usia 1 atau 2 tahun hingga 5 atau 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya. Oleh karena itu , fungsionalisasi lingkungan keluarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.

Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembangan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Tugas perkembangan masa anak menurut Munorang tuar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.


Masa Bayi (0-2 Tahun)

Setiap aspek dalam tahap perkembangan bayi amat menarik untuk diperhatikan. Entah itu saat dia mulai bisa tersenyum, tertawa, merangkak, duduk, berdiri, berespon ketika diajak bicara, ataupun menunjukkan kemampuan lain yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Walaupun setiap bayi memiliki keunikannya sendiri, namun pada umumnya, setiap bayi memiliki tahapan perkembangan emosi yang dapat diprediksi polanya.

Bayi yang berusia 0-3 bulan sudah mulai dapat beraksi terhadap porang tuangan dan suara. Untuk beberapa detik, bayi sudah mulai bisa melihat dan menata, bahkan memberikan respon jika diajak bicara atau tersenyum. Bayi mungkin seringkali menangis, namun biasanya bisa segera diatasi dengan memberinya rasa nyaman melalui pelukan, diberi makan, diganti popoknya, digendong ataupun diajak bicara. Selain itu mereka juga sudah mulai dapat mengenali orang-orang yang sering dilihat atau berada di dekatnya.

Karena pada 3 bulan pertama ini bayi sepenuhnya bergantung pada orang tua, maka kebutuhannya untuk mengatasi perasaan negatif yang dialaminya, seperti stres, takut, frustrasi dan lain sebagainya juga sepenuhnya berada pada orang tua. Pada saat ini, yang terpenting baginya adalah merasakan bahwa orangtuanya selalu ada untuknya, setiap kali ia membutuhkan. Dengan begitu, kepercayaannya terhadap orang tua pun mulai terbentuk.

Rene Brummage, pakar perkembangan anak mengatakan, Lingkungan anak memegang peranan yang penting dalam membentuk kepribadiannya. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan mendorongnya memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan tekanan akan membuatnya tumbuh dalam ketakutan.

Pada masa 3-6 bulan, bagian otak bayi yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi mulai tumbuh. Dia pun menikmati interaksi dengan orang lain dan menunjukkan minat yang sangat besar dalam melihat wajah orang lain. Para ahli meyakini, ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tetapi juga dapat menolongnya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama orangtuanya. Dari setiap respon yang diberikan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.

Untuk membantu perkembangannya, cobalah untuk melakukan permainan kata atau mencoba membuat bunyi-bunyian bersama. Kemudian doronglah dia untuk mencoba menirukan bunyi-bunyian yang disukainya. Walaupun dia belum mengerti, Orang tua harus berusaha untuk terus berinteraksi dengannya melalui obrolan, membacakan cerita ataupun bernyanyi untuknya. Cara lain yang bisa Orang tua lakukan adalah bermain si kecil di depan kaca. Rene mengatakan, Cara ini tak hanya dapat memberinya porang tuangan yang lebih baik tentang dirinya tapi juga dapat mendorong perkembangan emosi yang positif terhadap sosok yang dilihatnya di cermin.?

Untuk menunjukkan perasaan tidak senang, bayi sudah mulai dapat menunjukkannya dengan mengeluarkan suara-suara lain selain menangis. Jika ia merasa senang, ia pun dapat menunjukkannya dengan senyum, tertawa atau memperdengarkan suara-suara menyenangkan lainnya. Intinya, bayi sangat suka diperhatikan dan tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Sebaliknya ia pun bisa menunjukkan rasa takut jika berada dekat dengan orang-orang baru.

Pada usia 6-9 bulan, bayi yang diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang yang konsisten sudah memiliki ikatan sosial emosi yang kuat dengan orangtua dan pengasuh lain yang penting dalam hidupnya. Semakin kuat ikatan, semakin kuat pula kepercayaan si kecil. Dalam memorinya, ia pun telah membeda-bedakan orang di sekitarnya menjadi dua yaitu, orang yang disukainya atau orang asing. Karena itu, ia pun mulai menunjukkan rasa kehilangan dan protes yang kuat (separation anxiety) jika berada jauh dari orang yang dekat dengannya.

Hillary Kruger MD, pakar perkembangan dan perilaku anak menambahkan, bayi pada periode ini sudah dapat mengetahui jika orangtuanya meninggalkan ruangan lalu kemudian mencarinya. Ketakutan dan ketidaksukaannya terhadap orang asing pung semakin kuat ditunjukkan (stranger anxiety), misalnya dengan menangis atau dengan berlindung pada dewasa yang dikenalnya. Mereka juga sudah mulai menunjukkan penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukai. Saat terbangun di malam hari, beberapa bayi pada usia ini berusaha mengatasi ketidaknyamanannya dengan memegang atau menggigit mainan yang disukai atau bahkan jarinya sendiri. Menginjak usia 8 bulan ke atas, bayi mulai menyukai permainan petak umpet. Sembunyikanlah mainan kesukaannya di bawah selimut, dan lihatlah bagaimana ia berusaha untuk menemukannya.

Pada usia 9-12 bulan, rasa takut terhadap orang asing dan kelekatan terhadap orang-orang yang memiliki arti khusus buatnya masih akan terus berlanjut tapi akan berangsur-angsur berkurang. Ekspresi, gerakan tubuh dan suara untuk menunjukkan perasaannya pun sudah berkembang semakin kompleks. Interaksi sosialnya pun makin berkembang. Hal ini ini ditunjukkan dengan ketertarikannya untuk mulai bermain dengan orang lain.

Hillary mengatakan, mendekati usia satu tahun anak mulai menikmati permainan yang bersifat resiprokal (berbalasan), seperti menggelindingkan dan menangkap kembali bola. Sejalan dengan pertumbuhan fisiknya yang memungkinkan dia untuk bergerak lebih bebas ke sana-ke mari, ketertarikannya pun tumbuh semakin besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya. Menurut Hillary, hal itu biasanya ditunjukkannya dengan menunjuk suatu objek yang menarik agar orangtuanya pun ikut memberikan fokus dan perhatiannya.

Pada usia 13-15 bulan, begitu banyak hal baru yang mulai dilakukannya, terutama berkaitan dengan fungsi motorik kasarnya. Salah satu hal baru yang mulai dilakukan anak pada usia di atas 1 tahun ialah keterampilan berjalan. Grafik Milestone mencatat pada umumnya anak memulai proses belajar berjalan sejak usianya minimal 9 bulan sampai maksimal 18 bulan.

Proses anak belajar berjalan antara lain ditandai dengan anak merangkak, berjongkok, berdiri sendiri, menjaga keseimbangan dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Namun jangan terkejut bila salah satu implikasi dari proses ini anak akan sangat sulit digendong, dipangku atau ditahan di satu tempat. Hal ini wajar, karena ia baru saja merasakan kebebasan untuk menjelajah.

Tidak perlu terlalu panik apabila anak sering terjatuh, tahanlah keinginan untuk segera bergegas mengangkat dan mengobatinya, kecuali jika dia memang benar-benar terluka. Terjatuh sesungguhnya merupakan bagian dari proses belajar berjalan itu sendiri. Bersabarlah dan sediakan tempat yang aman bagi si kecil untuk bereksplorasi dalam kebebasan barunya.

Ketika anak sudah bisa berjalan selama beberapa minggu atau bahkan bulan, maka kepercayaan diri dan kemapanan anak pun semakin bertambah tiap harinya. Biasanya pada usia ini anak mulai senang memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain, sepertinya mereka tidak pernah lelah mendorong kotak atau ember mengelilingi ruangan. Bahkan anak akan mulai memanjat ke kursi atau meja. Antusiasmenya dalam menjelajah bisa saja melebihi kemampuannya, jadi orang tua perlu memonitor eksplorasinya dengan lebih waspada.

Anak mulai membiasakan diri menggunakan tangannya. Umumnya pada usia ini anak menyukai pekerjaan tangan berupa memasukkan dan mengeluarkan, misalnya meletakkan mainan ke dalam kotak lalu melemparkannya kembali ke luar. Atau terkadang anak akan menyusun menara kecil dari 2-3 kotak kecil kemudian meruntuhkannya. Anak sedang mengasah indera perabanya terhadap berbagai macam sentuhan. Mereka ingin menyentuh dan merasakan apapun dengan tangan mereka: hewan peliharaan, tanaman di halaman rumah, atau kucuran air dari keran.

Memasuki usia 16-18 bulan tentunya akan ada hal-hal baru yang dialami dan dipelajari oleh anak. Anak pada usia ini, rasa ingin tahunya sangat besar. Umumnya mereka akan merebut benda apa saja yang ada di sekitarnya, mengamati dengan cermat, memasukkan ke dalam mulut atau membantingnya ke lantai. Umumnya anak juga berambisi untuk menguji kemampuan mereka sendiri.

Menyadari dirinya sudah bisa berjalan, anak kemudian berusaha untuk berjalan sambil membawa beban. Begitu pula jika anak sudah yakin dia bisa memanjat ke atas sofa, ia akan berusaha memanjat ke kursi atau meja yang letaknya lebih tinggi. Jika ambisi petualangannya ini tidak diawasi dengan cermat, anak bisa terancam bahaya. Namun petualangannya tersebut juga sebaiknya jangan dihalang-halangi, sebab hal tersebut bermanfaat untuk mengasah keahlian anak dalam bergerak. Untuk itu, langkah yang paling bijaksana ialah memberi kesempatan dan tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk memenuhi ambisi petualangannya. Pada usia ini anak juga dapat Orang tua ajak dalam permainan jongkok, berdiri dan melompat-lompat.

Pada rentang usia ini, anak mulai menunjukkan kecenderungannya, lebih sering menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Oleh sebab itu, pada usia ini pula Orang tua dapat mulai melatihnya membedakan fungsi tangan kanan dan kiri.  Yang perlu diingat, orangtua jangan terlalu keras menegur dan memaksa anak untuk menggunakan tangan yang benar, misalnya tangan kanan saat memegang makanan. Proses pemilihan tangan untuk melakukan suatu aktivitas akan berjalan secara natural meskipun pola pembiasaan juga berpengaruh. Tidak perlu bereaksi berlebihan kalaupun anak Orang tua ternyata kidal dan lebih nyaman menggunakan tangan kiri.

Atas, bawah, depan, belakang, di luar, atau di dalam, anak akan mulai belajar hal-hal ini sekitar usia ini. Untuk semakin menstimulasinya, orang tua dapat membuat berbagai permainan sederhana, misalnya menyuruh anak mencari suatu benda yang letaknya di bawah meja di dalam kamar kemudian memintanya untuk memindahkan benda itu ke atas kursi di bawah lukisan di ruang tamu, dan seterusnya.

Anak pada usia 19-21 bulan sepertinya semakin sulit dikendalikan, terutama dengan kesukaannya memanjat serta mencorat-coret, tapi sebenarnya dia sedang mulai melatih keseimbangan dan motorik halus. Pada usia ini, anak sedang melanjutkan pengujian terhadap daya penggeraknya. Dia akan semakin semangat berjalan ke belakang (backward), menyamping, menaiki dan menuruni tangga. Dia juga akan berusaha berlari ke sama kemari. Gerakan-gerakannya cenderung antusias sehingga bisa terkesan grasak-grusuk dan membuat Orang tua tidak tenang.

Akan tetapi hal ini sesungguhnya normal, termasuk jika ia sedikit demi sedikit tersandung dan jatuh. Yang penting Orang tua menyediakan tempat yang cukup nyaman dan aman baginya untuk berlari ke sana kemari, mengingat kemampuannya untuk mengendalikan belum sempurna, dia belum bisa memperkirakan kecepatan dan jarak yang ideal untuk berlari maupun berhenti.

Yang sulit dikendalikan umumnya adalah kesukaannya untuk mencorat-coret. Biasanya pada usia ini anak tertarik menggambar garis-garis vertical dan horizontal, juga lingkaran. Meski terlihat sebagai bentuk-bentuk sederhana, namun hal ini juga memiliki pengaruh baik bagi perkembangan anak. Menggenggam krayon saat menggambar melibatkan kerja motorik halus, serta koordinasi mata dan tangan, serta melatih imajinasi anak.

Kita mungkin sebenarnya tidak memiliki keberatan apapun untuk mendukung hobi baru anak ini, akan tetapi masalahnya seringkali anak sangat suka mencorat-coret tembok dan wajar saja bila orang tua merasa keberatan pada hal tersebut. Kita dapat memberi penjelasan secara perlahan pada anak bahwa tembok bukanlah tempatnya dia berkreasi, sediakan kertas, kanvas atau white board sebagai gantinya. Atau juga bisa menyediakan space khusus di tembok (misalnya Orang tua berikan batas bingkai dengan kayu atau kain) sebagai tempat anak ber-graffiti.

Orang tua akan direpotkan dengan kebiasaan barunya yakni memanjat dan menguji keseimbangan tubuh. Meski hal ini pasti membuat Okhawatir, namun dengan menyediakan tempat yang aman baginya untuk berlatih memanjat dan melatih keseimbangan sesungguhnya sangat baik untuk menyalurkan energi anak dan mendukung perkembangan balita secara fisik.

Menjelang dan memasuki usia 2 tahun beberapa hal ini dapat ditemukan dalam tumbuh kembangnya. Jari-jari tangannya akan semakin cekatan, dia akan belajar berpakaian sendiri, dan dia akan siap untuk Toilet Training. Pada usia 22 bulan kemampuan motorik halus anak akan semakin dilatih dan disempurnakan. Untuk mendukung perkembangan ini, Orang tua dapat menyediakan berbagai mainan dengan bahan empuk yang mudah dibentuk seperti bahan-bahan dough, clay atau lilin mainan. Si kecil akan menikmati aktivitas yang menyibukkan jarinya seperti menekan, meremas, atau menggulung.

Lebih jauh lagi, bukan hanya jari-jarinya yang akan terlatih. Seluruh otot tangan dan pergelangan akan turut bergerak. Selain meningkatkan kemampuan motorik halusnya, hal ini juga mendukung pertumbuhan fisik dan mental anak. Misalnya saat akan menyusun balok menjadi suatu bangunan, maka sebelumnya anak akan terlatih untuk berpikir kreatif dalam menentukan bentuk bangunan yang akan disusun.

Sekitar usia 23 bulan, anak akan mulai ingin berpakaian sendiri. Biasanya dia akan mulai dengan mencoba menepis tangan orang tuanya dan membuka pakaiannya sendiri. Biarkan anak melakukannya, meskipun dia akan menghabiskan waktu lebih lama. Perhatikan cara anak saat melepaskan pakaiannya, karena dia bisa saja mengalami beberapa kesulitan. Setelah bisa membuka pakaian, biasanya anak juga akan mencoba memakai pakaiannya sendiri. Untuk memudahkan dia (dan orang tua juga sebenarnya), pilih pakaian yang relatif lebih sederhana dan mudah, misalnya dengan kancing yang besar dan tidak terlalu banyak, atau dengan retsleting.

Sebetulnya tidak ada patokan umur bagi seorang anak harus mulai melakukan toilet training. Namun umumnya sekitar usia 2 tahun bisa menjadi usia yang ideal untuk mencoba mengajari anak mengontrol BAB dan BAK-nya, serta belajar menggunakan toilet untuk buang air.

Jangan terburu-buru dan terlalu memaksakan si kecil, karena toilet training adalah proses yang memerlukan waktu yang tidak sama pada masing-masing anak. Sebaliknya, Orang tua justru harus memperhatikan kesiapan si kecil. Karena bagaimanapun, itulah kunci utama keberhasilan toilet training. Semakin siap anak maka akan semakin mudah juga untuk melatihnya.

Langkah paling sederhana bagi anak dalam belajar ialah melalui imitasi. Biarkan anak mengamati orang tua saat ke kamar mandi dan menggunakan toilet. Sebaiknya anak laki-laki melihat ayahnya dan sebaliknya anak perempuan melihat ibu, agar mereka tidak dibingungkan dengan perbedaan jenis kelamin.


Masa Anak Awal atau Kanak-kanak (2-6 Tahun)

Pada masa ini, perkembangan fisik anak meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon dll), dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.

Masa kanak-kanak awal terjadi pada rentang usia 2-6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Pada masa kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan bertambah berat 2,5 – 3,5 kg setiap tahun. Pada usia 6 tahun berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali berat pada waktu lahir.

Keterampilan umum yang sering dilakukan anak biasanya menyangkut keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan dalam aktivitas makan dan berpakaian sendiri biasanya dimulai pada masa bayi dan disempurnakan pada masa kanak-kanak awal. Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Pada saat anak-anak mencapai usia TK, mereka sudah harus dapat mandi dan berpakaian sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali. Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue dan menjahit, mewarnai dan menggambar dengan pensil atau krayon. Mereka juga sudah dapat menggambar orang.

Keterampilan kaki dapat dilakuan anak dengan belajar gerakan-gerakan kaki. Antar usia 3-4 tahun anak dapat mempelajari sepeda roda tiga dan berenang. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari. Usia 5 atau 6 tahun anak belajar melompot dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat memanjat.

Pada masa kanak-kanak awal ini, anak berpikir konvergen menuju ke suatu jawaban yang paling mungkin dan paling benar terhadap suatu persoalan. Menurut teori Piaget, anak pada masa kanak-kanak awal berada pada tahap perkembangan praoperasional (2-7 tahun), istilah praoperasional menunjukkan pada pengertian belum matangnya cara kerja pikiran. Pemikiran pada tahap praoperasional masih kacau dan belum terorganisasi dengan baik, yang sering dikatakan anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Adapun ciri-ciri berpikir pada tahap praoperasional adalah semakin berkembangnya fungsi simbolis, tingkah laku imitasi langsung maupun tertunda, cara berpikirnya masih egosentris, centralized atau terpusat pada satu dimensi saja, serta cara berpikir yang tak dapat dibalik dan terarah statis.

Pada usia ini, anak (peserta didik) berada dalam periode “praoperasional” yang dalam menyelesaikan persoalan, ditempuh melalui tindakan nyata dengan jalan memanipulasi benda atau obyek yang bersangkutan. Peserta didik belum mampu menyelesaikan persoalan melalui cara berpikir logik sistematik. Kemampuan mengolah informasi dari lingkungan belum cukup tinggi untuk dapat menghasilkan transformasi yang tepat.

Pada masa usia ini pula, perkembangan bahasa pada anak dipengaruhi Teori Belajar sosial, yakni anak belajar bahasa dengan model-model yang ada di lingkungannya. Melalu imitasi dan respon dari lingkungan, akhirnya anak menguasai keterampilan bicara. Namun menurut Chomsky, perkembangan bahasa anak juga terjadi karena faktor pembawaan; bahwa anak lahir sudah disertai dengan LAD (Language Aquisition Device) yang membuat anak sering mengekspresikan sesuatu dengan kata yang tidak ditemukan dari lingkungannya.

Perkembangan sosial emosional terintegrasi dengan perkembangan aspek lainnya seperti perkembangan kognitif dan perkembangan motorik. Dalam bermain anak mengalami perubahan dari permaianan solitair, paralel, sampai ke permainan asosiatif. Dari bermain, anak belajar sejumlah peraturan sosial. Menurut teori perkembangan psikososial Erikso, anak usia ini berada pada tahap perkembangan otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu, serta perkembangan inisiatif vs rasa bersalah. Perkembangan diri diawali dari perasaan secara fisik kemudian berkembang menjadi perasaan yang lebih bersifat psikologis.

Anak-anak populer terbukti memiliki keterampilan sosial lebih tinggi dibanding dengan anak yang kurang populer. Anak yang populer terlibat dalam hubungan dengan teman sebaya yang lebih kompleks, dan hal ini lebih menguntungkan dan meningkatkan lagi bagi perkembangan kognitifnya. Anak-anak yang mengalmi konflik dan tidak mampu menyatakan secara verbal akan mencoba menyelesaikan konfliknya dengan kekuatan fisik

Perilaku prososial dapat berkembang apabila anak diajarkan untuk berpikir dengan cara sudut pandang orang lain, hal ini dapat diperoleh melalui permainan sosiodrama. Anak mengalami perkembangan emosi dari senang, marah, malu, kecewa dan sebagainya. Pada masa ini anak tidak hanya perlu belajar bagimana cara mengekspresikan emosinya, tetapi juga perlu belajar mengendalikannya.

Anak masa kanak-kakak awal sering mengembangkan stereotipe tentang gender yang salah, seperti anak perempuan tidak boleh menjadi polisi. Pada tahap inilah orang tua mempunyai peran penting untuk mengajarkan anak sadar akan gendernya sendiri, menentang berkembangnya sterotipe tentang gender yang salah, serta mendorong anak-anak bermain secara lintas gender.

Adapun tugas perkembangan pada masa anak-kanak awal ini antara lain:
  1. Belajar berjalan
  2. Belajar makan makanan padat
  3. Belajar mengendalikan gerakan badan
  4. Mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya
  5. Memperoleh stabilitas fisiologi
  6. Membentuk konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik
  7. Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, kakak adik dan orang lain
  8. Belajar membedakan yang benar dan salah

Masa anak lanjut atau masa anak sekolah (6-12/13 Tahun)

Anak Usia 6-12 tahun adalah masa usia sekolah tingkat SD bagi anak yang normal. Perkembangan anak masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sebagai orang tua harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya terutama pada usia ini karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat yang harus diimbangi dengan pemberian nutrisi dan gizi yang seimbang.

Pada usia sekolah dasar (6-12 tahun), anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menurut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitifnya (membaca, menulis, menghitung). Pada masa pra-sekolah pola pikirnya masih bersifat imajinatif (khayalan), sedangkan pada masa sekolah dasar daya pikirnya sudah merujuk kepada hal-hal yang bersifat kongkrit dan rasional. Piaget menamakannya sebagai masa operasi kongkrit, masa berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir nyata.

Periode ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru yakni; mengklasifikasikan, menghubungkan angka-angka. Kemampuan menghitung, menambah, mengurangi. Kemampuan selanjutnya anak sudah bisa memecahkan masalah yang sederhana. Kemampuan intelektual anak pada masa ini sudah cukup untuk menjadikan dasar diberi berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan daya pikir dan daya nalarnya seperti, membaca, menulis, dan berhitung seta diberi pengetahuan tentang manusia, hewan, alam serta lingkungan.

Bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal, dan menguasai vocabulary  atau perbendaharaan kata. Terdapat dua faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa yaitu;
  1. Proses jadi matang, dengan kata lain anak itu menjadi matang (organ suara sudah berfungsi) untuk berkata-kata
  2. Proses belajar, yang berarti anak telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan yang didengarnya.
Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada usia anak memasuki usia sekolah dasar, sudah sampai pada tingkat dapat membuat kalimat yang lebih sempurna, dapat membuat kalimat majemuk dan dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan. Di sekolah sengaja diberi pelajaran bahasa untuk menambah menambah perbendaharaan katanya serta belajar menyusun struktur kalimat, pribahasa, kesusastraan dan keterampilan mengarang. Hal ini dilakukan agar anak mampu menguasai dan mempergunakan bahasanya dengan baik.

Pada usia ini, anak juga mengalami peningkatan dari sisi perkembangan sosial, dimana perkembangan sosial ini diartikan sebagai proses pencapaian kematangan dalam hubungan interaksi social, atau dapat dikatakan sebagai proses belajar penyesuaian diri terhadap norma-norma kelompok, tradisi dan moral. Perkembangan sosial anak usia ini ditandai dengan adanya perluasan hubungan, baik hubungan keluarga, teman sebaya, atau lingkungan sekolah. Pada fase ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap kooperatif (kerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain). Anak merasa senang jika ia diterima dalam suatu kelompok dan merasa tidak senang jika ia ditolak dalam kelompoknya.

Berkat perkembangan sosialnya ini anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun lingkungan sekitarnya. Menginjak usia anak sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima dimasyarakat. Oleh karena itu ia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan kontrol ini diperoleh melalui peniruan dan latihan-latihan (pembiasaan). Apa bila anak dikembangkan dalam lingkungan yang suasananya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil dan sebaliknya.

Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan (senang, nikmat, bahagia). Emosi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkah laku, dalam hal ini tingkah laku belajar. Emosi yang positif, akan memengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca, berdiskusi dan sebagainya. Dan sebaliknya, apabila yang menyertai proses itu emosi yang negatif, maka proses belajar akan terganggu dalam arti individu tidak bisa memustkan perhatiannya untuk belajar.

Anak mulai mengenal konsep moral (mengenal benar dan salah) pertama kali dari lingkungan keluarga. Usaha menanamkan konsep moral sejak dini adalah keharusan karena informasi yang diterima anak mengenai benar salah, baik buruk, akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya dihari kemudian. Pada usia sekolah dasar ini anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntunan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk prilaku dengan konsep benar salah. Misalnya ia memandang bahwa perbuatan nakal atau dusta dan tidak hormat pada orang tua adalah perbuatan yang salah. Sedagkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan suatu yang benar.

Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhannya. Pada fase ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini, seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik, berenang dsb.

Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik di bidang pengetahuan maupun keterampilan. Oleh karena itu perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar pserta didik. Pada usia sekolah dasar kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya dicapai, karena mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan.

Pengalaman pertama yang sangat berat bagi anak pada usia ini adalah mulai belajar berdisiplin di sekolah dan harus patuh peraturan. Bagi anak yang senantiasa mendapat perhatian lebih dirumah maka pengalaman sekolah bukan hal yang menyenangkan. Apalagi guru yang tidak memberikan perhatian peralihan maka akan mempengaruhi sikap si anak seterusnya terhadap sekolah. Orang tua juga hendaknya memberikan dorongan moril kepada anak untuk bersekolah dan belajar. Hal itu akan menambahkan sesuatu dalam pertumbuhannya.

Sebelum menstimulasi kognisi anak, orang tua harus mengetahui terlebih dulu perkembangan kognitifnya sesuai usia. Misalnya, untuk anak balita perkembangan kognitifnya berkaitan dengan perkembangan berbagai konsep dasar seperti mengenal bau, warna, huruf, angka, serta pengetahuan umum yang akrab dengan kehidupan sehari-harinya. Disamping itu perkembangan kognitif berkaitan erat dengan perkembangan bahasa.
Aneka kegiatan yang bisa orang tua lakukan guna menstimulasi kognisi anak adalah:
  • Mengadakan acara mendongeng.
  • Membaca buku cerita, baik dilakukan oleh orang tua atau si anak sendiri.
  • Menceritakan kembali suatu kisah dari buku cerita yang sudah dia baca.
  • Sharing mengenai pengalaman sehari-hari yang bisa dilakukan secara verbal, gambar atau tulisan.
  • Berdiskusi tentang suatu tema.
Kegiatan-kegiatan tersebut sangat baik jika divariasikan dengan berbagai kegiatan, seperti membuat kerajinan tangan atau games menarik.

Sedangkan untuk anak 6-12 tahun, perkembangan kognitifnya sangat berkaitan dengan kemampuan akademis yang dipelajari di sekolah. Akan tetapi kemampuan kognitif bisa menjadi lebih optimal apabila otak kanan anak mendapat stimulasi. Anak yang memiliki fungsi otak seimbang akan lebih responsif, kreatif, dan fleksibel. Kegiatan yang bisa dilakukan oleh anak 6-12 tahun adalah:
  • Ketika mempelajari berbagai kemampuan akademis, guru dan orang tua hendaknya memperhatikan kondisi anak. Contohnya, saat anak sudah terlihat bosan seharusnya secara otomatis materi yang disampaikan pada anak dibumbui atau diselingi dengan permainan atau hal jenaka yang bisa membuat anak tertantang dan gembira. Ingat, selingan seperti ini sebaiknya tetap pada konteks pembicaraan atau pembahasan.
  • Stimulasi otak kanan untuk menstimulasi kemampuan kognitif dapat dilakukan melalui kegiatan music & movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama.
Berkaitan dengan stimulasi afeksi, bisa dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal maupun intrapersonal anak balita maupun 6-12 tahun. Manfaat utamanya adalah mengembangkan rasa percaya diri, memupuk kemandirian, mengetahui dan menjalani aturan, memahami orang lain, dan mau berbagi. Cara memberikan stimulasi bisa dengan cara sebagai berikut:
  • Biarkan anak melakukan sendiri apa yang bisa ia lakukan.
  • Buatlah kesepakatan tentang berbagai hal yang baik/boleh dan tidak, serta konsekuensinya, tentu dengan bahasa yang bisa dipahami anak.
  • Berikan penghargaan untuk hal-hal yang dapat dilakukanya dengan baik atau lebih baik dari sebelumnya. Bisa juga ketika anak dapat mengikuti aturan (terutama pada awal mula diterapkan suatu aturan).
  • Berikan konsekuensi negatif atau punishment terhadap tingkah laku anak yang kurang baik atau tidak sesuai dengan aturan. Untuk hal ini perlu mempertimbangkan usia anak.
  • Berikan perhatian untuk berbagai reaksi emosi anak. Contoh, saat dia sedih, gembira, marah, berikanlah respons yang sesuai dengan kebutuhannya kala itu.
  • Anak difasilitasi untuk bermain peran.
  • Biasakan anak untuk mampu mengungkapkan perasaanya, baik secara verbal, tulisan, ataupun gambar.
  • Biasakan mau berbagi dalam setiap kesempatan.
  • Khusus untuk anak 6-12 tahun, mulai perkenalkan dengan berbagai permainan dalam rangka mengenalkan aturan main, sportivitas, dan kompetisi.
Namun tak hanya itu yang bisa menjamin anak menjadi cerdas. Lingkungan di mana anak berada sangat memegang peranan penting untuk membentuknya menjadi anak yang bahagia dan sehat. Jika bicara ideal, beginilah seharusnya lingkungan anak balita dan anak usia 6-12 tahun:

  • Dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung, di antaranya arena bermain lengkap dengan prasarananya.
  • Lingkungan harus ramah anak, sekaligus memberi jaminan atas kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan bergerak.
  • Jika hal tersebut tidak memungkinkan untuk diwujudkan, cukuplah membuat lingkungan yang bisa menerima dan memberi toleransi pada anak dalam berkegiatan. Temanilah selalu anak saat berekplorasi. Biarkan dia bebas memilih apa yang akan dikerjakan sepanjang tetap dalam koridor keamanan, kesehatan, dan kebaikan.
  • Jawablah sebisa mungkin setiap pertanyaan anak. Jika tidak bisa, ajak anak bersama-sama mencari tahu jawaban dari sumber yang bisa dipercaya, semisal mencarinya dalam kamus atau bertanya pada pakarnya.

Masa Remaja (13-18 Tahun)

Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan  yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan-peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya.

Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya. Pada tahap ini pula, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal.

Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.

Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak tidak lagi puas bermain sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai kenginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.

Seorang remaja dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dapat dipisahkan ke dalam tiga tahap secara berurutan (Kimmel, 1995: 16). Tahap yang pertama adalah remaja awal, di mana tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya sebagai remaja adalah pada penerimaan terhadap keadaan fisik dirinya dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Hal ini karena remaja pada usia tersebut mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat drastis, seperti pertumbuhan tubuh yang meliputi tinggi badan, berat badan, panjang organ-organ tubuh, dan perubahan bentuk fisik seperti tumbuhnya rambut, payudara, panggul, dan sebagainya.

Tahapan yang kedua adalah remaja madya, di mana tugas perkembangan yang utama adalah mencapai kemandirian dan otonomi dari orang tua, terlibat dalam perluasan hubungan dengan kelompok baya dan mencapai kapasitas keintiman hubungan pertemanan; dan belajar menangani hubungan heteroseksual, pacaran dan masalah seksualitas.

Tahapan yang ketiga adalah remaja akhir, di mana tugas perkembangan utama bagi individu adalah mencapai kemandirian seperti yang dicapai pada remaja madya, namun berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi yang di dalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem etik.

Masa remaja mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelumnya, Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (1992), antara lain :
  1. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.
  2. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Di sini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi dan belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya.
  3. Masa remaja sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan.
  4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.
  5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena sulit diatur,cenderung berperilaku yang kurang baik. Hal ini yang membuat banyak orang tua menjadi takut.
  6. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memorang tuang kehidupan dari kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiridan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita.
  7. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan didalam usaha meninggalkan kebiasaan pada usia sebelumnya dan didalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

Sedangkan menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan seorang remaja adalah sebagai berikut:
  1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif.
  2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
  3. Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang antara lawan jenis yang sebaya.
  4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman.
  5. Mulai berperilaku sosial yang bertanggung jawab.
  6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial.
  7. Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga.
  8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.
Penjelasan mengenai tugas-tugas perkembangan remaja ini adalah sebagai salah satu bagian dalam memahami remaja sebagai suatu masa transisi. Diharapkan, pada saat ini kita telah sampai pada pemahaman bahwa sesungguhnya masa remaja adalah masa transisi yang menjembatani masa kanak-kanak yang tidak matang ke masa dewasa yang matang. Macam transisi yang berbeda akan membawa pengaruh yang berbeda pula bagi individu yang mengalaminya.

Demikian pula dengan bagaimana cara kita melihat transisi tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita dapat memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh remaja. Selanjutnya, kita akan melihat perubahan dan perkembangan apa yang dialami oleh individu selama masa remajanya. Dengan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja mendorong kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung jawab.


Pelatihan Bagi Kaum Ibu Terhadap Tugas Perkembangan Anak

Berkaitan dengan penjelasan gamblang tentang tugas perkembangan anak, gambaran secara umum tentang apa yang dialami oleh anak-anak mulai dari umur 0 tahun hingga 18 tahun, kita bisa menilai bahwa bukanlah sebuah hal yang mudah dan sederhana untuk memahami tentang kecenderungan perilaku anak secara ideal maupun pada tataran fakta yang terjadi serta melakukan pendidikan pada anak kita secara langsung sebagai orang tua dan membangun pola asuh yang sesuai bagi anak. Padahal kemampuan memahami tugas perkembangan pada tiap urutan umur pada anak, proses mendidik dan membangun pola asuh yang sesuai itu akan menentukan karaklter, kepribadian dan perilaku anak-anak di kemudian hari.

Ketidakmengertian dan ketidaktahuan akan tugas perkembangan anak ini seringkali menyebabkan pertumbuhan anak yang kurang sehat, baik secara fisik maupun secara mental psikologis. Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari bagaimana seorang anak memiliki perilaku negatif, yang bahkan bisa melebihi perilaku orang tuanya karena diperkuat dengan kondisi lingkungan luar rumah yang memang juga parah. Ketidaktahuan dan ketidakmengertian orng tua ini seringkali menyebabkan anak memiliki orientasi yang salah dalam memahami nilai dan norma yang secara universal diterima oleh masyarakat, sehingga anak memiliki tingkat ambiguitas dan absurditas dalam berperilaku sebagai akibat dari penyimpangan dan gangguan fisik serta mental psikologis, yang bisa saja menyebabkan anak tidak dapat diterima oleh lingkungannya.

Untuk itulah maka pelatihan yang berkaitan dengan pengenalan tugas perkembangan anak secara komprehensif serta pemahaman pola perilaku anak yang muncul pada tiap tingkatan usia, menjadi sangat penting. Hal ini bertujuan agar orang tua mampu memiliki pemahaman yang cukup untuk membentuk pola asuh dan proses pendidikan pada anak yang memang menghasilkan perkembangan, pertumbuhan fisik dan mental yang positif dan lebih baik. Hal ini juga bisa mendorong para orang tua agar lebih memahami bahwa pola asuh dan proses pendidikan yang mereka lakukan terhadap anak tidak bisa hanya berdasarkan naluri belaka sebagai orang tua tanpa memahami setiap proses alami yang terjadi pada anak dari mulai umur 0 tahun hingga 18 tahun.

Model pelatihan yang bisa dilakukan dapat dilaksanakan dengan banyak sekali cara dan penyesuaian yang dianggap perlu terkait dengan persoalan kultural masyarakat setempat, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan yang dimiliki serta kemampuan finansial yang memungkinkan dalam perencanaan penyelenggaraan pelatihan.

Pelibatan lembaga-lembaga formal dan organisasi-organisasi yang memang memiliki bidang kerja dan kegiatan yang terkait, juga bisa dilakukan sebagai salah satu cara dalam mewujudkan proses kegiatan pelatihan ini yang lebih formal, memiliki kekuatan hukum dan yang lebih penting adalah berkelanjutan, sehingga proses pelatihan ini tidak hanya berhenti pada rumah tangga-rumah tangga yang memang mengikuti pelatihan tapi juga bisa menciptakan kader-kader pelatih yang bisa memberikan dan membagikan setiap pengalamannya dalam mengimplementasikan hasil dari pelatihan ini kepada orang lain di luar peserta pelatihan.

Dan tujuan yang ingin dicapai adalah menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik, yang dimulai sejak dini, di mana setiap peserta pelatihan yang berkelanjutan ini bisa membangun pola asuh yang baik pada anak-anaknya di kemudian hari serta menghasilkan generasi penerus yang tangguh dan memiliki kualitas yang lebih mumpuni, baik secara fisik maupun psikologis untuk menghadapi masa depan dan era globalisasi yang berisikan tingkat kompetisi yang tinggi serta menuntut pemenuhan kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas dalam kompetensi hidup sehari-hari dan dalam menjalani kehidupan pekerjaan professional. Terakhir, bahwa kegiatan ini diusulkan sebagai salah satu cara yang memang bisa dianggap tepat sasaran dalam proses menciptakan “National Character Building” yang idealnya memang harus diciptakan dalam lingkungan keluarga. Membangun generasi penerus yang lebih baik daripada generasi sekarang haruslah dimulai dari unit lingkungan sosial terkecil, yaitu keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

UpTweet

Visitor Counter

Total Tayangan Laman

Follow by Email