17/02/12

Menurunnya Kepercayaan Terhadap Partai Politik dan Calon Independen




Pilgub DKI yang akan diadakan Juli 2012 mendatang, akan semakin menarik. Kondisi bahwa Partai-partai politik mulai menunjukkan dukungan yang mengkerucut kepada 1 nama, yaitu Fauzi Bowo dan munculnya fenomena calon melalui jalur perseorangan yang mengandalkan semata-mata dukungan publik dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan untuk bisa maju sebagai calon Gubernur dan tidak menggunakan dukungan dari Partai Politik.

Di saat yang sama, kepercayaan terhadap partai politik semakin menurun. Hasil survei yang dilakukan Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) menunjukkan dukungan masyarakat terhadap partai politik semakin menurun akibat kekecewaan publik yang menilai pemerintah cenderung stagnan.
 “Jika pemilihan umum (Pemilu) diadakan hari ini, semua partai mengalami penurunan dari pemilu 2009 karena pemilih secara umum kecewa terhadap semua partai politik dan cenderung bingung untuk memberikan dukungannya,” kata peneliti CSIS, Sunny Tanuwidjaja, ketika memaparkan hasil survei CSIS tentang politik nasional 2012 di Jakarta, Senin (13/2/2012).

Dalam konteks DKI Jakarta, dengan situasi dimana sebagian besar penduduknya adalah penduduk yang bisa dikatakan ‘melek politik’, munculnya calon perseorangan/Independen dan mendapatkan dukungan yang signifikan menjadi linier dengan kondisi penurunan kepercayan masyarakat terhadap Partai Politik. Hal ini patut menjadi perhatian para aktifis dan petinggi partai politik dan pengamat bahwa kondisi seperti ini tidaklah membuat situasi demokrasi menjadi lebih sehat, namun semakin membuktikan bahwa kualitas demokrasi kita menjadi semakin sakit dan tidak bisa dibiarkan berkepanjangan. Sehingga para elit dan aktifis partai mulai segera berbenah dan memperbaiki organisasi mereka, baik dalam hal ideologi, platform, kaderisasi dan program-program.

Hal yang menarik jika kita cermati dengan munculnya calon perseorangan dalam Pilgub DKI 2012 ini adalah bahwa ada figur yang maju mencalonkan diri melalui jalur itu dengan mencoba melawan kondisi dan situasi yang mapan, seperti contohnya Faisal Basri dan Biem Benjamin. Mereka maju dengan dukungan massif warga yang mereka dapatkan tanpa memberikan timbal balik uang ataupun sembako, padahal hal tersebut sudah menjadi “Common Custom” di masyarakat dan elit yang ingin mendapatkan dukungan politis dari masyarakat.

Dari sisi masyarakat yang menerima, hal tersebut juga bisa terjadi dengan banyak kemungkinan, salah satunya adalah karena sudah matinya harapan mereka terhadap apa yang diperjanjikan oleh politisi atau partai politik yang membutuhkan dukungan, yang realisasinya tidaklah menyentuh mereka atau mempengaruhi kesejahteraan atau kepentingan emreka secara langsung, sehingga bentuk transaksi yang lebih bisa diterima oleh warga adalah transaksi “langsung” dan “beli-putus” dimana warga pada akhirnya tidak terlalu perduli apakah setelah menang ataupun menjabat, partai politik atau politisi tersebut akan memperjuangkan kepentingan mereka atau tidak, karena jangankan janji-janji yang terealisir, menyapa dan menemui mereka saja sudah tidak akan pernah dilakukan, menunggu waktu kontestasi politik berikutnya.

Hal ini coba diatasi oleh pasangan Faisal Basri dan Biem Benjamin dengan tidak memberikan uang atau sembako kepada para warga yang memberikan dukungannya melalui KTP dan form dukungan yang harus mereka tandatangani. Bahwa mereka mengusung politik bersih dan berjuang untuk warga, menjadi janji yang harus mereka penuhi jika menang, dan menjadi tangung jawab moral tersendiri jika tidak mereka penuhi ketika menang dan menduduki kursi DKI 1 dan 2.

Pemanfaatan internet dan sosial media yang optimal juga menandai pembaharuan pola kampanye yang dilakukan oleh pasangan ini. Hal ini bisa membantu mereka dalam meminimalisir biaya-biaya kampanye yang jika mengikuti pola-pola yang sebelumnya, akan menyedot biaya yang sangat besar. Penyebaran isu dan gagasan sebagai visi misi perjuangan pasangan ini yang dilakukan via website, twitter, facebook, Blog, dan sebagainya, membuat mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar dnamun mendapatkan sambutan dari media mainstream dan publik dengan cukup baik dan efektif.

Dalam hal pendanaan, pasangan ini juga mencoba menjaring dana langsung dari publik dengan membuat beberapa kegiatan, salah satunya adalah dengan membuat acara makan malam bersama dengan Faisal Basri dan Biem Benjamin di Hotel Sahid beberapa waktu lalu. Dijual beberapa jenis tiket untuk bisa hadir pada acar tersebut mulai dari 1 juta rupiah hingga 10 juta rupiah. Dan hasilnya langsung diumumkan ke publik saat acaranya berakhir. Hal ini dimaksudkan untuk menjaring dana kampanye pasangan ini dan seolah-oleh menegaskan bahwa pasangan ini menolak dukungan finansial dari pengusaha-pengusaha yang cenderung akan mempengaruhi kebijakan publik mereka untuk kepntingan sendiri, ketika mereka berhasil memenangkan kursi DKI 1 dan 2 tersebut.

Namun pergerakan Faisal Basri dan Biem Benjamin beserta tim dan masyarakat yang mendukung (Faisal Basri biasa mengatakan ini pergerekan sosial), tidak akan mulus berjalan, dikarenakan perlawanan dari pihak lawan dan yang merasa terancam juga dilancarkan dengan cukup masif. Di ranah sosial media, misalnya, banyaknya akun-akun di twitter yang sepertinya di design khusus untuk menyebar isu-isu diseputar Faisal Basri, seperti mempermaslahkan marga Batubara Faisal Basri, menyebar fitnah bahwa Faisal Basri Korusp sewaktu di PAN, dan sebagainya. Namun isu-isu tersebut tidaklah mendapatkan tanggapan yang besar dari publik dikarenakan tidak adanya data yang signifikan dan bukti-bukti konkrit yang berkaitan dengan hal tersebut dan akun-akun yang menyebarkan isu-isu tersebut adalah akun-akun yang tidak jelas siapa pemiliknya.

Mencermati proses verifikasi administrasi dan faktual dukungan warga terhadap masing-masing calon perseorangan tersebut. Proses yang harus dilakukan oleh KPU DKI ini sebetulnya sangat berat dan hampir mustahil bisa dilakukan secara ideal. Ini dikarenakan oleh masalah waktu dan tingkat kesulitan yang tinggi, seperti waktunya yang hanya 1 bulan di beberapa tingkatan, yaitu untuk tingkat Panitia Pemungutan Suara (PPS) mulai 14 Februari hingga 27 Februari. Verifikasi faktual tanggal 17 hingga 27 Februari, sedangkan verifikasi di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dimulai 28 Februari hingga 5 Maret 2012. Dan terakhir untuk tingkat KPU Kota mulai 6 Maret hingga 12 Maret 2012.

Dalam proses tersebut, setelah tahap verifikasi administrasi tuntas, KPU akan masuk ketahap faktual. Pada tahap faktual, pasangan bakal calon gubernur DKI Jakarta harus menghadirkan pendukungnya ke masing-masing kelurahan dan untuk tahap ini, waktu yang ditetapkan oleh KPU DKI Jakarta sesuai jadwal yakni selama sembilan hari. Setelah itu, maka tahap selanjutnya yang dilakukan yakni pembuatan berita acara.

Belum lagi sebelum verifikasi, setelah mengantarkan dokumen dukungan kepada KPUD untuk proses pendaftaran secara resmi, para calon perseorangan ini diwajibkan mengantar seluruh dukungantersebut ke masing-masing kelurahan untuk masuk dalam proses verifikasi. Kemudian setelah itu, para calon perseorangan tersebut wajib menghadirkan seluruh warga yang menyatakan mendukung ke masing-masing kelurahan untuk mintai persetujuan dukungan secara langsung dalam waktu 9 hari.

Mudah-mudahan saja proses yang memang sulit ini bisa terlewati oleh para calon perseorangan, yang, mudah-mudahan lagi, berjuang dengan dilandasi oleh niat yang baik, sehingga bisa memberikan warna positif kepada proses demokrasi di Jakarta dan Indonesia secara umum. Bisa dipercaya bahwa gerakan dan cara-cara seperti yang dilakukan oleh Faisal Basri dan Biem Benjamin ini adalah sebuah bentuk gerakan sosial yang jika berhasil dan terus berjalan, menjadi sebuah pembelajaran politik kepada semua pihak bagaimana melakukan gerakan politik yang bersih tanpa melakukan pembodohan kepada rakyat dengan membagikan uang atau sembako demi kepentingan sendiri yang sementara dan sempit.

Kondisi linier dari menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik yang penyebabnya sudah banyak dikaji oleh para pakar dan ahli, terhadap munculnya dukungan kuat terhadap calon-calon perseorangan yang sebetulnya tidak saja terjadi di Jakarta, namun di beberapa daerah lain, harus menjadi cambuk bagi para elit partai politik dan para aktifis didalamnya, untuk segera menyeimbangkan kepentingan pragmatismenya dengan idealisme keberpihakan kepada rakyat yang seharusnya mereka perjuangkan dan wakili dalam setiap kesempatan dan keidupan politik di semua lapisan. Hal ini menjadi wajib agar sistem demokrasi yang kita anut ini, yang secara nyata di topang oleh Partai Politik, kembali menjadi sehat dan partai politik bisa kembali betul-betul menjadi corong dan wadah aspirasi serta perjuangan politik rakyat dalam memperjuangkan kesejahteraannya.

http://kabarjakarta.com/berita-603-menurunnya-kepercayaan-terhadap-partai-politik-dan-calon-independen.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

UpTweet

Visitor Counter

Total Tayangan Laman

Follow by Email