13/06/10

'Metode Intensif Akademis Dan Non-Akademis" - Lembaga Bimbingan Belajar “FOTON”

I. Latar Belakang


Dewasa ini, pemahaman akan keberhasilan sebuah pendidikan, baik formal maupun non formal adalah dapat atau tidaknya seorang peserta didik berhasil menggapai prestasi akademis setinggi-tingginya. Prestasi akademis yang didapat menjadi parameter seorang peserta didik dikatakan telah mengenyam pendidikan dengan baik. Parameter yang ada tersebut menjadi sebuah tuntutan yang dibebankan kepada peserta didik dan menjadi sebuah hal yang harus dipenuhi.

Terkadang tuntutan tersebut hanya sekedar dibebankan kepada peserta didik, tanpa pernah memperhatikan aspek-aspek atau faktor-faktor yang memang menjadi aspek atau faktor penunjang dalam pencapaian atau pemenuhan dari tuntutan yang dibebankan tersebut, seperti faktor eksternal, yaitu penyiapan peserta didik agar siap mengatasi permasalahan akademik dengan baik maupun faktor internal individunya sendiri seperti, faktor kecerdasan emosional, sikap mental yang positif serta pemahaman individu terhadap nilai, norma dan sebagainya.

Kemudian, yang biasa terjadi adalah, titik berat kegiatan dalam pencapaian prestasi adalah bagaimana mempersiapkan peserta didik untuk siap dalam mengatasi permasalahan akademik. Yang pada kenyataannya semuanya berpulang pada kesiapan dari peserta didik tersebut, baik secara mental maupun psikologis. Padahal, kesiapan peserta didik secara mental maupun secara psikologis sangatlah berperan untuk menentukan kesiapan peserta didik dalam meraih prestasi akademik. Seperti contoh, di Sekolah-Sekolah Negeri, yang peran Bimbingan-Konselingnya sangat kurang dalam melakukan observasi terhadap murid-muridnya. Karena fokus utama program kerjanya adalah membina siswa-siswa yang bermasalah, baik secara sosial maupun secara pribadi. Tapi kemudian tidak menyentuh kepada diri siswa yang mereka anggap normal. Karena sesungguhnya, siswa-siswi yang tergolong dalam tugas perkembangan remaja tersebut, masih sangat labil kepribadiannya, atau dengan kata lain masih dalam tahap pencarian jati diri. Sehingga kemudian, sangatlah wajar jika mereka membutuhkan suatu bimbingan terpadu dari lingkungan terdekatnya, dalam hal ini guru-gurunya.

Pada kenyataannya, proses kegiatan belajar-mengajar yang biasanya dilakukan disekolah adalah bagaimana para peserta didik bisa dianggap berhasil mencapai tingkat prestasi akademik setinggi-tingginya, tetapi kurang sekali diberikan pemahaman tentang keberhasilan dalam pencapaian jati diri, keberhasilan dalam mencapai sikap mental yang positif, bagimana mengembangkan moral dan budi pekerti yang baik. Pada dasarnya, keberhasilan pendidikan adalah tidak hanya pencapaian prestasi setinggi-tinginya tetapi juga harus mencakup hal tersebut diatas, seperti pencapaian jati diri, sikap mental positif, moral dan budi pekerti yang baik dan lain sebaginya (Selain berperan sebagai tujuan pendidikan dalam satu segi, juga mutlak berperan dalam mendukung pencapaian prestasi setinggi-tingginya).

II. Tinjauan Metode

Maka kemudian timbullah kebutuhan mendesak untuk mencoba memadukan antara kedua bentuk pendidikan, yaitu pendidikan dalam hal-hal yang berkitan dengan kemampuan akademik maupun dalam hal-hal yang berkaitan dengan sikap mental positif maupun psikologik, baik secara periodik maupun secara simultan. Metode pendidikan yang dilakukan bisa dengan membuat sebuah pola terpisah antara keduanya (keduanya berdiri sendiri) ataupun dengan menyatukan dalam suatu pola terpadu dan dinamis diantara keduanya. Maksud dari pola terpadu dan dinamis adalah kedua bentuk pendidikan tersebut digunakan sebagai dasar pencapaian prestasi dan kedua-duanya memiliki fungsi sebagai ujung tombak dan faktor penunjang diantara keduanya, baik secara bergantian maupun secara bersama-sama.

Jika kita perhatikan, metode pemberian materi yang umum dilakukan oleh para guru atau pengajar sekarang ini, masih bersifat indoktrinasi, yaitu proses internalisasi materi atau pemahaman yang dipaksakan dari luar kepada peserta didik. Dengan sangat berpegang pada isi dari literature dan terkadang menabukan perdebatan. Sehingga pada akhirnya, yang terjadi adalah murid menjadi seorang penghafal materi bukan memahami materi dan menjadi tergantung kepada hal-hal yang bersifat tekstual.

Kembali kepada tugas perkembangan remaja yang lebih merasa nyaman dengan teman sebaya, seharusnya para pengajar bisa memposisikan diri sebagai teman sebaya tanpa menghilangkan etika guru dengan murid. Kemudian proses pemberian materi lebih banyak dialogis atau proses timbal balik antara pengajar dengan siswa tentang materi pelajaran. Dan harus diarahkan bagaimana materi yang ingin diberikan adalah hasil proses pemikiran dari siswa itu sendiri dengan proses seperti tanya jawab. Sehingga proses internalisasi dalam diri siswa tersebut adalah hasil rasionalisasi dari siswa itu sendiri.

Untuk itulah, kemudian Lembaga Bimbingan Belajar FOTON mencoba mengembangkan suatu metode pembelajaran yang terpadu antara pembinaan intensif materi-materi akademik dan pembinaan serta observasi intensif tentang keadaan mental psikologis juga mempersiapkan sebuah pola pembiasaan dari pada nilai-nilai dasar kehidupan (Life Skill Values) yang memang dibutuhkan untuk kesiapan siswa secara mental psikologis dalam menghadapi ujian-ujian kerangka akademik maupun dalam proses menuju gerbang kehidupan mereka selanjutnya.

Untuk mempersiapkan siswa-siswi secara akademik, dilakukan pemberian materi intensif dengan waktu pemberian materi yang cukup lama (sekitar 2 jam dalam tiap sesi), dengan frekuensi tes-tes remedial (Try Out) yang cukup banyak sebagai parameter akademik siswa. Dengan tenaga-tenaga pengajar yang note bene masih cukup muda, yang tidak terlalu jauh tugas perkembangannya dengan para siswa, diharapkan dapat membuat para siswa cukup merasa nyaman dalam setiap sesi pertemuan dikelas. Juga akan dilakukan klinik-klinik akademik bagi siswa-siswi yang memang merasa kurang dalam bagian setiap mata pelajaran dalam waktu yang ditentukan ataupun tidak (bisa dilakukan pada waktu luang diluar jam pertemuan dikelas). Khusus untuk klinik akademik ini, akan dilakukan pada dua sisi, baik secara akademik maupun secara mental psikologis.

Kemudian untuk mempersiapkan para siswa secara mental psikologis, dilakukan observasi intensif terhadap para siswa yang dilakukan oleh staf pengajar maupun oleh sebuah tim Psikologi. Bentuk observasinya adalah menyeluruh, sehingga diharapkan dapat melakukan pengawasan kepada setiap siswa-siswi secara individual. Kemudian untuk mendukung pola observasi menyeluruh, pada awal masuknya, setiap siswa akan dikenakan beberapa tes psikologi yang menjadi landasan awal observasi setiap siswa-siswi tersebut, seperti tes intelegensi, tes minat-bakat, tes motivasi dan sebagainya. Kemudian, akan dilakukan Bimbingan Konseling untuk para siswa yang sifatnya konsultatif, tentang segala macam permasalahan yang dialami oleh para siswa-siswi tersebut, dalam waktu yang ditentukan ataupun tidak (waktu luang). Hal ini diharapkan agar permasalahan-permasalahan yang dialami oleh para siswa-siswi tersebut tidak menjadi faktor penghambat mereka dalam melakukan proses belajar. Dalam Bimbingan Konseling ini, konsultasi tidak hanya diperuntukkan kepada para siswa saja, tetapi kepada orang tua siswa juga diberikan kesempatan setiap waktu untuk melakukan diskusi tentang keadaan anak-anaknya. Hal ini juga sangat diharapkan untuk dilakukan, agar terjadi keseragaman dan penyamaan visi tentang treatment (perlakuan) yang akan diberikan atau sedang diberikan kepada para siswa, sehingga tidak terjadi distorsi atau penyimpangan pemahaman kepada para siswa tentang treatment yang mereka dapatkan. Dan juga agar treatment yang diberikan tidak menjadi kontraproduktif dengan treatment yang mereka dapatkan dirumah.

Kemudian pada saat-saat yang ditentukan akan diberikan simulasi-simulasi kegiatan yang bertujuan untuk mengasah kemampuan mereka dalam hal kecerdasan emosional, life skill edukasi, pengembangan wawasan dan sebagainya. Simulasi-simulasi tersebut adalah seperti mengadakan forum-forum diskusi untuk para siswa yang akan membahas hal-hal diluar materi akademis, seperti bedah buku, film dan lain sebagainya. Kemudian simulasi-simulasi Fun Games, yang lebih berisikan simulasi-simulasi tentang bagaimana menyelesaikan masalah, analisa masalah, kepemimpinan dan sebagainya. Kemudian, pada waktu yang ditentukan, para siswa akan diajak untuk mengalami kehidupan dialam bebas dengan konsep minimalis, yang bertujuan untuk lebih mengasah kemampuannya dalam menjalani kehidupan (life skill education). Khusus untuk hal ini, simulasi kegiatan akan dibuat dalam skenario beratmosfir, tegas-disiplin.

Untuk lebih meminimalisir penyimpangan dari treatment yang bisa terjadi oleh faktor diluar lingkungan rumah, sekolah dan FOTON, maka kami berusaha untuk membuat suasana tempat belajar yang kondusif, nyaman dan bersahabat. Diharapkan, para siswa dapat lebih banyak meluangkan waktunya ditempat mereka belajar ini, sehingga akan lebih memudahkan pengawasan yang bersifat observatif.

III. Penutup

Pada akhirnya, untuk menyimpulkan, nilai dasar yang akan kami coba tanamkan kepada para peserta didik tersebut adalah bahwa keberhasilan mereka dalam hidupnya dalam segala bidang, ataupun kegagalan mereka dalam menghadapi kehidupannya, adalah tanggung jawab mereka sendiri. Peran serta aktif semua pihak yang terlibat dalam hal pendidikan para peserta didik ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan para peserta didik tersebut dan mendukung kearah penanaman nilai dasar diatas. Juga saling bahu membahu untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan siap bersaing dengan dunia global.

1 komentar:

  1. Setuju za...pemilihan pendidikan selayaknya mengacu pada psikologi anak Indonesia,dan tetap harus ada kesaimbangan diantaranya IQ & EQ 'n beberapa faktor external lain

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini

UpTweet

Visitor Counter

Total Tayangan Laman

Follow by Email